Showing posts with label cressida. Show all posts
Showing posts with label cressida. Show all posts

Saturday, February 15, 2014

Saya 'pernah' ingin menjadi penulis

Gak sengaja nemuin tulisan gw yang ini, kok keren sih? Haha. Monggo di baca tulisan gw waktu SMP, lalalala~


***

Dan selesailah aktingnya, yeah, akting—Rachael harus berpura-pura bahwa ia menyukai saudara tirinya yang baru saja datang satu bulan yang lalu itu, karena apabila dia sedikit saja berkata hal-hal yang buruk mengenai Ann, maka orangtuanya akan selalu memarahinya, dan Ann itu tukang pengadu, jadi.. kau tahulah. Kali ini wajahnya dihiasi oleh cengiran puas, tangannya segera menyeret kursi bekas Ann duduk, lalu meletakkan kaki-kaki rampingnya di atas kursi tersebut sambil menyeruput teh earl grey miliknya.

“Bonjour.”

Hng—peri? Dan peri itu membawa surat, katanya sih dari Beauxbatons—wah, tempat ibunya dulu bersekolah ya?


“Permen. Cokelat. Manisan. Lolipop. Gula. Mana?”


Tangannya segera merogoh saku bajunya dan mengeluarkan beberapa butir permen mint yang memang selalu dibawa olehnya. Semoga saja peri itu menyukai mint. Rachael segera menyerahkan permen mintnya kepada peri tadi, lalu membaca surat yang dibawa oleh peri tersebut dengan teliti.

...

Intinya dia masuk Beauxbatons, rite? Bagus, dia bisa jauh-jauh dari Ann.

Gadis kecil tersebut memandang ke luar melalui kaca jendela kamarnya yang mulai berembun. Di luar, langit sedang bersedih dan meneteskan air matanya. Namun sebaliknya, sang gadis merasa senang memandangi tangisan sang langit. Ia sangat menyukai butir-butir air yang menetes, mengikuti hukum gravitasi dan jatuh ke tanah, sebelum akhirnya mengalir menuju laut dan mengulangi proses yang sama. Singkatnya ia sangat menyukai hujan.

Jarang seorang Faith mendapatkan kesempatan untuk duduk sejenak dan memperhatikan aliran air pada kaca jendelanya, semenjak adanya Dave, adik laki-lakinya. Kini sang adik sedang tertidur di ruang sebelah dan tentu ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Memandangi tangisan sang langit.

“Bonjour.”


Melirikkan iris abu-abu pada sumber suara, Fay menemukan makhluk kecil berbentuk seperti peri yang terbang di dalam kamarnya. Entah darimana atau bagaimana makhluk mini tersebut dapat masuk ke kamarnya yang tertutup, ia tak mau ambil pusing. Yang lebih penting kenapa peri tanpa ekspresi tersebut ada di kamarnya saat ini.

“Surat untuk Anda dari Beauxbatons Academy of Magic.”

Beauxbatons?


Mengangkat alisnya dengan heran, gadis kecil tersebut menerima surat yang disodorkan kepadanya tersebut. Surat dari Beauxbatons. Tentu saja, ayah dan ibunya pernah memberitahunya bila suatu saat nanti ia pasti akan menghadiri Beauxbatons, tempat di mana ayah dan ibunya bertemu. Meski ia bukanlah seseorang yang asing dengan berbagai sihir, tetap saja Fay harus menghadiri sekolah, layaknya seorang murid menghadiri sekolah dasarnya. Begitu?

“Permen. Cokelat. Manisan. Lolipop. Gula. Mana?”


Untuk yang kedua kalinya, sang gadis mengangkat alisnya dengan heran. Peri kecil ini meminta bayaran atas jasanya sebagai tukang pos? Sambil tersenyum simpul, gadis berambut pirang panjang tersebut mengambil coklat yang kebetulan ada di atas meja belajarnya dan menyodorkannya pada sang peri. Dan secepat peri tersebut datang, secepat itu pula ia pergi setelah menerima coklat dan membungkuk.

Tertawa pelan, gadis itu kemudian meletakkan suratnya secara sembarangan di atas tempat tidurnya. Iris abu-abu kembali menangkap butiran-butiran bening yang turun dari langit, sementara tangan menopang wajahnya. Tangannya yang lain meraih sebuah pensil dan kertas, kemudian mulai menorehkan huruf-huruf dalam kertas tersebut, sembari sesekali menatap ke luar kaca jendela. Untuk surat, menyusul kemudian.

Saturday, November 6, 2010

i'm a demigods -.-


Angin bertiup sangat kencang. Udara di luar sangat dingin. Cress mendkapkan tubuhnya di dalam sweater pink tebal pemberian kakak laki-laki nya.
Cress melangkah keluar, mendekati kotak pos di halam rumah nya. Ada sebuah surat, berwarna coklat. Bertuliskan “to: Cressida Amethyst” surat untuk nya. Tak dicantumkan nama dan alamat si pengirim.
Cress kembali ke dalam rumah. Duduk di sofa besar depan perapian. Hangat dan nyaman. Ia buka surat itu. Ternyata kosong.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Belum sempat Cress membukakan pintu, seseorang sudah memasuki rumahnya dan menarik Cress keluar. Genggamannya sangat erat sehingga Cress tak bisa melepaskannya. Cress berteriak ketakutan dan kesakitan. Siapa dia?
Tubuh Cress dilemparnya dan ia dimasukkan kedalam sebuah mobil. Mungkin mobilnya. Mobil biru keluaran terbaru, terlihat dari beberapa aksesoris di dalam mobilnya yang masih terbungkus plastik.
Entah kenapa Cress tak dapat berteriak. Ini mungkin penculikan. Tetapi Cress seperti terhipnotis olehnya, diam tak bergerak. Entah ia ingin dibawa kemana.
Setelah beberapa lama berdiam diri di dalam mobil, terlihat sebuah papan bertuliskan “Bukit Blasteran” di sisi jalan. Yaa.. Cress disini, Bukit Blasteran.